Banjarnegara – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banjarnegara, atau yang akrab dikenal dengan Mandabara, sukses menyelenggarakan kegiatan workshop inspiratif pada Kamis, 29 Januari 2026. Bertempat di Ruang Multimedia, acara ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus meningkatkan kapasitas keilmuan para guru bimbingan konseling di wilayah Kabupaten Banjarnegara.
Kegiatan ini dihadiri oleh 65 peserta yang merupakan perwakilan dari Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) SMP dan MTs se-Kabupaten Banjarnegara. Workshop ini menghadirkan pakar psikologi, Eka Widiasari, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama.
Kepala Mandabara, Prihantoro Achmad, dalam sambutannya membuka acara dengan penuh antusiasme. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi pendidikan demi kualitas mental siswa yang lebih baik.
”Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta workshop di kampus Mandabara. Saya sangat berharap kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kompetensi Bapak dan Ibu guru sekalian,” ujar Prihantoro Achmad saat memberikan sambutan pembukaan.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar pelatihan formal, melainkan momentum untuk membangun jejaring yang lebih solid.
”Hari ini, MAN 2 Banjarnegara berkesempatan mempererat silaturahmi dengan rekan-rekan MGBK SMP/MTs Kabupaten Banjarnegara melalui workshop yang inspiratif. Bersama narasumber luar biasa, Ibu Eka Widiasari, M.Psi., Psikolog, kita belajar lebih dalam mengenai pendekatan psikologis yang relevan bagi siswa di era sekarang. Kerja sama ini diharapkan menjadi jembatan sinergi yang kuat antara SMP/MTs dan Madrasah Aliyah dalam mengawal tumbuh kembang peserta didik,” tambahnya.
Selama sesi materi, Eka Widiasari memaparkan berbagai teknik pendekatan emosional yang efektif untuk menghadapi tantangan remaja saat ini. Ia menekankan bahwa guru BK harus mampu menjadi pendengar yang aktif sekaligus fasilitator solusi bagi permasalahan kompleks yang dihadapi siswa.
Workshop yang berlangsung hingga siang hari tersebut diakhiri dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta tampak antusias melontarkan pertanyaan terkait studi kasus yang mereka temui di sekolah masing-masing, menciptakan atmosfer belajar yang dinamis dan solutif. (ta)
Tinggalkan Komentar