Madrasah
Monday, 16 May 2022
  • Selamat Datang di Website Resmi MAN 2 Banjarnegara | Kawasan Zona Integritas . Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK - WBBM)
19 August 2021

SAYA, SISWI DI ERA PENDEMI

Thursday, 19 August 2021 Kategori : Artikel / Prestasi / Siswa

Bangun pagi, gosok gigi, cuci muka, daring lagi. Hai! Saya adalah siswi salah satu Madrasah di Banjarnegara, tepatnya MAN 2 Banjarnegara. Sudah 2 tahun ini saya, bukan hanya saya juga. Tapi seluruh siswa/i di Indonesia mengalami sebuah perubahan drastis di bidang pendidikan. Dulu, pagi hari kami sudah rapi, sarapan, meminta uang saku dan bertemu kawan-kawan juga menerima materi langsung dari guru. Sekarang, segala urutan keseharian tersebut telah buyar. Kenapa bisa buyar? ‘menghela nafas’ Ya! Karena pandemi Covid-19. Secara resmi, kasus positif Covid-19 teridentifikasi di Indonesia pada 2 Maret 2020, di daerah Depok, Jawa Barat. Pemerintah langsung mengambil tindakan dengan meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah selama 2 minggu. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya perkembangan kasus Covid -19 yang tentunya tidak bisa diidentifikasi dengan mata telanjang.

Saya masih mengingatnya dengan jelas. Pada waktu itu, saya masih duduk dibangku kelas 10 semester 2. Pengumuman libur tersebut disebar melalui amplop coklat tipis yang diberikan kepada siswa untuk ditujukan kepada wali mereka. Setelah itu, pengumuman libur 2 minggu tersebut menggema di speaker informasi setiap kelas. Salah satunya kelas saya. “Woii libur woii!”, kawan-kawan sekelas langsung bersorak sorai gembira. Saya beri tahu anda sedikit rahasia, saya juga ikut bersorak sorai waktu itu. Tapi, tentunya kami tidak menyangka bahwa libur 2 minggu tersebut akan berlanjut sampai 2 tahun lamanya. Sekarang saya sudah duduk di bangku kelas 12. “Masa SMA adalah masa-masa yang paling indah”, begitu kata sebagian orang. Sayangnya saya dan kawan seangkatan tidak bisa merasakan ‘keindahan’ tersebut. Kami kehilangan masa – masa itu.

Baik! Sudahi dulu sedihnya. Ambil smartphone mu dan mari kerjakan tugas daring bersamaku! Tugas daring? Apa itu tugas daring? Sedikit saya jelaskan ya, tugas daring adalah tugas yang diberikan dan diserahkan secara online pada aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial. Jadi, pada jam mapel tertentu guru akan memberikan materi berupa file PDF atau video agar siswanya bisa memahami materi yang diberikan. Setelah pemberian materi, siswa akan diberi tugas dengan rentang waktu pengumpulan di jam mapel tersebut atau di hari itu juga. Tapi, ada juga guru yang mentolerir anak didiknya dengan pemberian waktu pengerjaan selama 1 minggu atau beberapa hari. Nah! Guru seperti ini yang kami suka. Walaupun begitu, saya tetap merasa bahwa pembelajaran daring ini merenggut kebebasan dan kemerdekaan saya dalam belajar. “Saya hanya ingin kembali belajar di sekolah! Saya rindu ruang kelas saya, bangku tempat saya belajar, secara singkat saya rindu keadaan yang dulu.” Batin saya sedikit memberontak, lelah. Tapi, ada sedikit kejutan dari Kementerian Pendidikan beberapa waktu yang lalu. Kementerian Pendidikan menunjuk beberapa sekolah dan madrasah untuk menggelar uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Salah satu Madrasah yang ditunjuk dan diizinkan di daerah Jawa Tengah adalah Madrasah saya, MAN 2 Banjarnegara.

Pengumuan terkait uji coba PTM tersebut di bagi melalui grup whatsapp kelas. Gembira betul hati saya saat melihat pengumuman tersebut. Saya cepat- cepat mengajukan diri untuk mengikuti uji coba PTM karena kuota peserta didik yang mengikuti dibatasi. “Harus ikut! Pokoknya harus ikut!” pinta saya kepada orang tua agar memberikan ijin, sedikit rasa semangat saya untuk belajar timbul kembali. Uji coba PTM dibagi menjadi 2 gelombang. Gelombang 1 diselenggarakan pada tanggal 5 – 16 April 2021 dan gelombang 2 diselenggarakan pada tanggal 26 April – 8 Mei 2021. Sedangkan PTM gelombang 3 masih belum bisa terlaksana karena terkendala oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan Sekolah/Madrasah tidak bisa seenaknya menyelenggarakan PTM tanpa arahan dari pemerintah. Pada PTM gelombang 1, jumlah perwakilan siswa perkelas yang mengikuti uji coba tersebut adalah 2 orang. Sementara pada gelombang 2, terdapat 5-6 perwakilan siswa perkelas. Saya adalah salah satu perwakilan dari kelas saya. Alhamdulillah, terpilih. Senang sekali rasanya dapat belajar lagi di Madrasah dan mendapat materi langsung dari guru walaupun nafas saya kadang sesak karena terganjal oleh masker.

Pada waktu itu, PTM dimulai pada pukul 08.00 WIB. Saya datang ke Madrasah kurang lebih pukul 07.45 WIB. “Madrasah kok jadi beda ya?”, benak saya. Tempat cuci tangan yang berjejer rapi di bagian gerbang utama  saya perhatikan, dengan cat hitam sertan kran air berbahan logam dimana sabun cuci tangan diselipkan di samping bak tampungan air menjadi permandangan berbeda untuk saya, mungkin untuk siswa yang lainnya juga. “Segera cuci tangan, jangan cuma diperhatikan.” Suara petugas protokol kesehatan membuat saya kaget. Saya buru-buru mencuci tangan dan menghampiri petugas. Petugas langsung mengecek suhu saya tepat di dahi  dengan termogun (alat cek suhu badan yang berbentuk seperti pistol). Jantung saya berdetak lumayan cepat saat petugas sedang mengecek suhu badan saya, saya khawatir jika suhu saya ada di atas rata-rata. “Jedag jedug jedag jedug”. Maklum, parno dahulu lega kemudian. Setelah itu suhu badan saya di tulis oleh petugas di buku saku uji coba PTM yang berwarna kuning bercampur hijau seukuran telapak tangan. Pengecekan suhu dilakukan dua kali, yaitu pada saat masuk dan keluar Madrasah. Kami juga diberi himbauan oleh petugas agar selalu menjaga jarak. Setelah itu, kami diarahkan untuk masuk ke kelas masing – masing.

Saat memasuki kelas, saya melihat pemandangan yang sangat berbeda. Tempat duduk kami dijadikan terpisah dan berjarak. 1 meja panjang untuk 1 buah kursi. Dulu saat keadaan masih normal, kami terbiasa mengisi 1 buah meja dengan 2 kursi, duduk bersebelahan dengan kawan sebangku kami. Saya memperhatikan papan tulis putih yang agak kusam terpampang di depan kelas, masih kosong. Mading yang terpampang di belakang kelas kebanyakan juga sudah usang dan copot dari tembok. Saya duduk di barisan bangku paling belakang, mengeluarkan buku dan alat tulis dari tas abu-abu saya.

Lima belas menit sebelum memulai pembelajaran, kami diharuskan untuk tadarus Al-quran terlebih dahulu dan berdoa bersama. Saat kegiatan pembelajaran dimulai, guru tidak diperkenankan untuk memberi tugas dalam bentuk diskusi antar siswa. Rasa kantuk mulai menguasai raga, saya terbiasa mengobrol dan berdiskusi dengan kawan sebangku di tengah pembelajaran. Tapi hal itu sudah tidak lagi memungkinkan. Pembelajaran berakhir pada pukul 11.30 WIB. Saat jam pulang, kami berbaris satu persatu dengan menjaga jarak dan diarahkan untuk cuci tangan lagi. Saya melewati beberapa kelas yang tidak digunakan untuk uji coba tersebut saat perjalanan keluar Madrasah. Pintu-pintunya terkunci, tapi saya masih melihat dengan jelas lantai dan meja yang terselimuti debu itu dari jendela.

Dalam uji coba PTM tersebut, Madrasah kami berada di bawah naungan Kementerian Agama. Mengenai izin penyelenggaraan, tentunya kami sudah diberi rekomendasi oleh satuan gugus tugas Covid-19 Kecamatan Banjarnegara dan izin oleh Puskesmas Banjarnegara. Saat proses belajar menagajar telah dimulai saya mengingat betul melihat ada beberapa orang dibalik jendela yang sedang mengamati proses pembelajaran tatap muka terbatas ini. Pada hari – hari berikutnya pun demikian. Saya menjadi saksi bagaimana Madrasah betul-betul berusaha untuk membangun pembelajaran yang aman dan nyaman untuk para siswa dan guru. Kerja sama antar sesama keluarga Madrasah menjadikan semangat saya untuk belajar dan lebih menghargai usaha para komite Madrasah meningkat. Sebetulnya kami juga ingin bebas belajar, seperti dahulu lagi. Pandemi benar-benar menjerat kami. Salah satu budaya di sekolah juga pudar karena pandemi. Budaya? Ya! Budaya bersalaman dan mencium tangan guru oleh siswa. Kebanyakan guru menolak saat saya mengulurkan tangan untuk bersalaman, sedih? Iya. Malu juga iya.

Tapi kita juga tak seharusnya menyalahkan dan pasrah dengan keadaan. Pandemi Covid-19 juga bisa memberi kita pembelajaran bagaimana kita harus selalu menghargai setiap pertemuan, waktu yang seseorang berikan, berkah kesehatan dan persahabatan. Iya, persahabatan. Hal ini saya alami sendiri dan bukan sebuah rekayasa. Sahabat dan kawan saya satu per satu hilang. Istilah ‘kacang lupa kulitnya’ , ‘datang hanya karena membutuhkan’ makin sering nampak dan membuat kesalahpahaman. Pandemi Covid-19 memang menjadi kesan tersendiri bagi kami, siswa dan siswi yang rindu bertemu kawan sepantaran dan belajar tanpa harus terhalang oleh layar smartphone dan video zoom. Kebebasan, kemerdekaan, semangat dan gairah untuk belajar menjadi sebuah kepasang surutan dan kami sebenarnya tidak menginginkan hal itu sama sekali. Saya seorang siswi, saya sendiri yang mengalami keadaan ini. Bukan bermaksud untuk berkeluh kesah, tapi memang keadaan sudah membawa kami untuk berpikiran seperti ini. Toh semua itu juga sudah menjadi konsekuensi agar penularan wabah Covid-19 ini bisa berkurang dan mencoba sedikit-sedikit keluar dari jerat pandemi. Suatu saat nanti, saya percaya bahwa pandemi ini akan musnah dan kebebasan semua orang akan kembali seperti sedia kala. Saatnya merdeka, merdeka belajar, merdeka bersosialisasi, merdeka membudaya dan merdeka kembali ke sekolah!

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada guru pembimbing yang telah membimbing saya dalam membuat tulisan ini. Kepada komite sekolah dan guru yang selalu berusaha untuk membangun pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan. Kepada orang tua saya yang selalu memberi saya semangat untuk belajar juga menekuni hobi saya dalam menulis dan kepada satuan tugas Covid-19 yang selalu berusaha menjaga kami agar terhindar dari wabah pandemi. You All The Best

Oh iya! Saya juga ingin mengajukan sebuah pertanyaan penutup. Kapan pandemi ini akan berakhir sehingga kami bisa merdeka kembali bersekolah? Saya rindu bersekolah!

 

Felsi Ayu

No Comments

Tinggalkan Komentar

 

May 2022
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Trafik Situs

  • Visitors today : 48
  • Page views today : 83
  • Total visitors : 17,936
  • Total page view: 30,804
  • Visitors today : 48
  • Page views today : 83
  • Total visitors : 17,936
  • Total page view: 30,804

Ikuti Kami

Madrasahnya Para Juara